Generasi Milenial Indonesia Lebih Optimistis Ketimbang Singapura

Ribuan pencari kerja mengisi data saat mendatangi pameran Indonesia Career Expo 2018, MI/Ramdani

Jakarta:  Berdasarkan hasil survei perusahaan konsultan manajemen multinasional McKinsey mengungkapkan, bahwa anak muda Indonesia optimistis menghadapi era revolusi industri 4.0.  Sebaliknya, tren pesimistis justru ditunjukkan oleh anak muda Singapura dalam menghadapi era disrupsi teknologi tersebut.

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Ananto Kusuma Seta mengatakan, dalam survei tersebut terungkap, 54% anak Indonesia optimistis bahwa revolusi industri 4.0 akan meningkatkan jumlah pekerjaan.  “Survei dilakukan terhadap negara-negara di kawasan Asia,” kata Ananto di sela-sela Seminar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. 

Dalam survei tersebut, pertanyaan yang diajukan sederhana.  Yakni apakah 4.0 dapat menurunkan jumlah pekerjaan, dan apakah tidak berpengaruh terhadap jumlah pekerjaan?

Baca: Banyak Negara Gagal Terapkan Literasi Digital

Ananto mengatakan, jawaban anak muda Singapura menunjukkan pesimistis terhadap kehadiran era 4.0.  Hanya 31% yang menjawab 4.0 akan meningkatkan jumlah pekerjaan.

“Mereka pesimistis, karena Singapura banyak industri jasa, di mana sekarang diautomasikan sehingga banyak diganti mesin,” ungkap Ananto.

Sementara anak muda Indonesia justru optimistis, bahwa era revolusi industri 4.0 justru akan menciptakan peluang kerja baru.  “Oleh karena itu, anak muda kita ini aset luar biasa,” terangnya.

Untuk itu. kata Ananto, dunia pendidikan harus memanfaatkan momentum anak muda sebagai aset luar biasa ini. “Salah satunya dengan mengintegrasikan literasi digital ke dalam broad based education.  Intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler,” sebut Ananto.

(CEU)